Warna-Warni
Lampu Lampion Kota Tepian
Kota Samarinda atau yang biasanya dijuluki dengan sebutan
kota Tepian ini merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Sebagai kota yang
menjadi pintu gerbang segala aspek, mulai dari aspek pemerintahan hingga aspek
bisnis, Samarinda selalu kedatangan tamu-tamu baru dari luar kota Samarinda.
Tak hanya itu, letak geografis Kalimantan Timur yang dekat dengan negara-negara
tetangga membuat Samarinda sebagai kota
jantung Kalimantan Timur tak sepi akan kedatangan para warga asing dari negara
tersebut. Tak jarang tamu-tamu tersebut menetap dan tinggal di Samarinda.
Dalam buku Statistik Daerah Kota Samarinda 2015, dibandingkan
wilayah perkotaan lainnya, Kota Samarinda memiliki jumlah penduduk tertinggi,
bahkan merupakan tertinggi dibandingkan wilayah kabupaten atau kota lainnya di
Kalimantan Timur. Pada tahun 2014 jumlah penduduk kota Samarinda sebanyak
830.676 jiwa. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada
tahun 2012 jumlah penduduk kota Samarinda adalah sebanyak 781.184 jiwa dan pada
tahun 2013 sebanyak 805.683 jiwa, atau dengan kata lain, dalam kurun waktu 3
tahun terakhir pertumbuhan penduduk samarinda rata-rata adalah 3,12 persen per
tahun.
Hal ini dapat disimpulkan bahwa Samarinda merupakan kota dengan
jumlah penduduk yang tinggi dengan rutinitas penduduknya yang tinggi pula.
Seperti yang pernah dilansir pada salah satu koran terbesar di Kalimantan Timur
bahwa rutinitas tinggi penduduk kota Samarinda ditambah tuntutan dan
permasalahan yang terjadi dalam kegiatan sehari-hari, salah satu contohnya
adalah kemacetan lalu lintas dapat menyebabkan stres, tekanan, serta kejenuhan.
Terlansir pula pendapat Ayunda Ramadhani, dosen Studi
Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman.
Beliau menyarankan agar penduduk Samarinda menyempatkan diri untuk liburan
bersama keluarga. Dengan liburan, tak hanya dapat mengurangi stres, tekanan,
dan kejenuhan namun juga menumbuhkan keharmonisan serta kehangatan diantara
anggota keluarga.
Kota yang memiliki segudang rutinitas ini menawarkan beberapa
jenis wisata untuk menjadi pilihan untuk mengisi liburan. Menurut
Antonius Naibaho (2006), jenis-jenis wisata terbagi berdasarkan tujuan
wisatawan, diantaranya:
1. Wisata Alam
Wisata alam
adalah wisata perjalanan yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan
lingkungannya sebagai objek tujuan wisata.
2. Wisata Bahari
Wisata bahari
adalah wisata dengan tujuan dapat menikmati keindahan bawah laut. Biasanya
wisatawan dapat melakukan diving maupun
snorkeling.
3. Wisata Sejarah
Wisata sejarah
adalah wisata yang berkunjung ke tempat-tempat peninggalan sejarah. Tujuan
wisatawan untuk melakukan wisata ini adalah untuk memperdalami ilmu arkeologi
atau sedang mempelajari seluk-beluk sejarah peradaban manusia di masa lalu.
Baiasanya wisatawan mengunjungi Museum, Prasasti, Candi dan tempat bersejarah
lainnya.
4. Wisata Religi
Wisata religi
adalah wisata dengan mengunjungi tempat-tempat khusus bagi umat beragama,
biasanya seperti tempat ibadah dan makam. Untuk Indonesia sendiri, banyak
tempat-tempat yang dianggap penting dan memiliki kesan tersendiri bagi umat
beragama khususnya bagi umat Islam.
5. Wisata Budaya
Wisata budaya
adalah wisata dengan tujuan mengenali adat dan budaya daerah setempat.
6. Wisata Cagar Alam atau Taman Konservasi
Wisata cagar
alam atau konservasi adalah penjelajahan daerah cagar alam, taman lindung,
hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang kelestariannya dilindungi oleh
undang–undang. Wisata cagar alam ini banyak dilakukan oleh para penggemar dan
pecinta alam dalam kaitannya dengan menambah wawasan dan menambah pengetahuan tentang
binatang atau marga satwa serta pepohonan kembang beraneka warna yang memang
mendapat perlindungan dari pemerintah dan masyarakat.
7. Wisata
Pendidikan
Wisata
pendidikan merupakan program pariwisata yang dipadukan dengan program
pendidikan di dalamnya. Biasanya jenis wisata ini diselenggarakan oleh
sekolah-sekolah guna mendukung pelajaran di sekolah. Tempat wisata yang dituju
pun adalah tempat-tempat yang tentunya berhubungan dengan pelajaran sekolah dan
biasanya siswa yang setelah mengikuti wisata ini ditugaskan membuat laporan
dari hasil yang dipelajarinya selama berwisata.
8. Wisata
Komersial
Wisata
komersial yaitu wisata yang dibangun oleh suatu lembaga pemerintahan atau
swasta untuk meraih keuntungan. Biasanya wisata ini dibangun di alun-alun kota
yang bersangkutan atau daerah yang strategis agar menarik perhatian wisatawan.
9. Wisata
Heritage atau Heritage Tour
Wisata
heritage atau heritage tour adalah wisata yang identik dengan keberadaan
bangunan atau objek tertentu yang usianya sudah tua. Biasanya wisatawan yang
melakukan wisata ini adalah seorang fotografer dengan tujuan mendapatkan hasil
gambar yang mereka inginkan.
10. Wisata
Kuliner
Wisata
kuliner adalah wisata yang mengkhususkan diri untuk mencoba berbagai jenis
kuliner tertentu. Biasanya food traveller sebutan untuk wisatawan
kuliner ingin menambah wawasan serta mengetahui tentang kuliner tersebut.
11. Wisata
Belanja
Wisata
belanja adalah wisata dengan membeli cinderamata dan makanan khas daerah yang
dikunjungi sebagai buah tangan wisatawan saat kembali ke daerahnya.
Berdasarkan jenis-jenis wisata yang telah disebutkan,
Samarinda memiliki wisata alam diantaranya, Air Terjun Tanah Merah dan Telaga
Permai Batu Besaung. Wisata cagar alam, diantaranya Kebun Raya Unmul Samarinda
dan Penangkaran Buaya Makroman. Wisata sejarah seperti Masjid Shiratal
Mustaqiem. Wisata budaya, diantaranya Desa Budaya Pampang dan Kampung Tenun
Ikat Sarung Samarinda. Wisata religi seperti Makam
La Mohang Daeng Mangkona sang pendiri kota Samarinda. Wisata belanja, salah satunya
adalah Citra Niaga yang pernah meraih perhargaan International Aga Khan
Award for Architecture (AKAA) pada tahun 1989 dan beberapa sejarah lainnya
yang menyelimuti Citra Niaga. Wisata komersial diantaranya Taman Tepian Mahakam
yang terletak bersebrangan dengan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Teluk
Lerong Garden serta Mahakam Lampion Garden.
Penduduk
kota Samarinda dapat beristirahat sejenak di beberapa wisata komersial tersebut
untuk menghilangkan stress, tekanan, maupun kejenuhan setelah rutinitas
sehari-hari. Lokasi mudah untuk dikunjungi karena wisata-wisata komersial
tersebut terletak di alun-alun kota Tepian Samarinda. Di sore hari, mata para
pengunjung akan terpesona dengan pemandangan matahari terbenam di pinggiran
sungai Mahakam. Memandangi hiruk pikuk perahu-perahu kecil maupun besar yang
berlayar di sungai Mahakam. Kicauan burung-burung yang terbang di langit yang
telah berganti warna menjadi oranye. Di malam hari, mata para pengunjung akan
dimanjakan dengan gemerlap warna-warni cahaya dari lampu lampion. Arsitektur
yang diterangi lampu lampion tersebut sangat cocok untuk berfoto-foto. Lebih
berkesan lagi bila berkunjung bersama teman atau keluarga. Wisata komersial
tersebut cukup membuat penduduk Samarinda terhibur. Melepaskan semua stres,
kejenuhan dan tekanan pada diri serta mengikat kembali semangat untuk melalui
hari-hari selanjutnya.
Wisata
komersial tersebut merupakan salah satu hal yang berharga yang dimiliki
Samarinda dan dapat digunakan sebagai salah satu pemasukan Samarinda. Namun,
wisata komersial tersebut memerlukan pembedahan untuk dapat lebih baik dari
sebelumnya agar menjadi harta berharga yang tidak pernah ditinggalkan oleh
pengunjungnya dengan seiringnya waktu. Mengingat jumlah penduduk kota Samarinda
yang selalu mengalami peningkatan dalam 3 tahun terakhir ini, sebaiknya
Pemerintah Daerah dan pihak yang terkait manfaatkan hal tersebut sehingga dapat
meningkat pemasukan. Bisa saja di tahun selanjutnya, jumlah penduduk Samarinda
meningkat lebih tinggi karena Samarinda adalah kota sentral Provinsi Kalimantan
Timur.
Setelah
saya berkunjung ke wisata komersial tersebut, menurut saya ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam mengelola wisata komersial tersebut. Pertama kali
yang saya tinjau adalahh lahan parkir kendaraan para pengunjung. Menurut saya,
lahan parkir yang ada saat ini belum mampu menempatkan semua kendaraan para
pengunjung, sehingga dengan nasib malang salah satu pilihan lain adalah pinggir
jalan raya menjadi lahan parkir sementara. Walau hanya sementara, penumpukan
kendaraaan para pengunjung yang bernasib malang di pinggir jalan raya tersebut
mengakibatkan lalu lintas jalan raya di kawasan tersebut terganggu dan
menyulitkan para pejalan kaki untuk menyebrang. Ini sering terjadi pada salah
satu wisata komersial yang terletak bersebrangan dengan Kantor Gubernur
Kalimantan Timur. Saya menyarankan agar Pemerintah Daerah dan pihak yang
terkait untuk memperluas lahan parkir untuk menempatkan kendaraan para pengunjung.
Tinjauan
saya yang kedua yaitu tidak ada pembatas antara pinggir jalan raya dengan
wisata komersial. Jika diperhatikan baik-baik, Teluk Lerong Garden dan
Taman Tepian Mahakam yang terletak bersebrangan dengan Kantor Gubernur
Kalimantan Timur tidak memiliki pagar pembatas. Hal ini sangat berbahaya
apalagi jika pengunjung membawa anak usia balita yang sangat lincah dan aktif. Dikhawatirkan
jika anak tersebut berjalan atau berlari ke jalan raya. Saran saya untuk hal
ini yaitu perlu dibangun pagar sebagai pembatas antara pinggir jalan raya
dengan wisata komersial.
Kemudian,
yang menjadi perhatian ketiga adalah tidak tersediannya fasilitas toilet pada
wisata komersial tersebut. Sehingga saya menyarankan agar segera menyediakan
toilet, yang bersifat sementara salah satu contohnya adalah toilet yang dapat
digerak dengan mobil sehingga dapat berpindah-pindah tempat atau bersifat tetap
dengan membangun toilet di beberapa titik wisata komersial tersebut.
Dan, yang
menjadi perhatian saya selanjutnya adalah makanan dan minuman yang dijual oleh
para pedangan di sekitar wisata komersial tersebut. Saya menyarankan agar
pemerintah dan pihak yang terkait melakukan uji kelayakan pada makanan dan
minuman yang dijual oleh para pedagang untuk para pengunjung. Setelah itu, memberikan
sebuah piagam sebagai bukti untuk pedagang yang telah melakukan uji kelayakan
agar para pengunjung tidak ragu dan khawatir untuk menikmati makanan dan
minuman pedagang tersebut sambil memandangi cahaya warna-warni lampu lampion
yang menyinari hiburan malam bersama teman ataupun keluarga para pengunjung.
Dari
penjelajahan saya ke wisata komersial tersebut, mata saya mendapatkan seorang
pengunjung membuang sampah langsung ke sungai Mahakam dengan melemparkan sampah
tersebut ke sungai. Tak hanya para pengunjung, namun juga para pedagang. Hal
ini akan menjadi sebuah kebiasaan buruk dan berujung pada pencemaran sungai.
Saran saya untuk Pemerintah Daerah dan pihak terkait membuat peraturan untuk
para pengunjung maupun para pedagang yang berjualan di wisata komersial
tersebut tentang menjaga kebersihan di sekitar kawasan wisata komersial
tersebut. Salah satu ide saya adalah bagi para pedagang yang berjualan minuman
dengan kemasan gelas plastik yang digunakan hanya sekali harus beralih ke gelas
plastik yang dapat digunakan kembali setelah dicuci. Dalam membuat peraturan
harus diperhitungkan dan dipikirkan dengan matang agar tidak merugikan pihak
manapun.
Tinjauan
saya selanjutnya adalah penataan posisi para pedagang wisata komersial.
Terkadang jalan para pengunjung menjadi sempit karena posisi-posisi para
pedagang tidak teratur. Terkadang pula para pedagang berjualan dekat dengan
lampu lampion sehingga menghalangi sinar cahaya warna-warni lampu lampion dan
para pengunjung terhalang untuk mendekati arsitektur lampu-lampu lampion
tersebut.
Tinjauan
terakhir saya dalam mengunjungi wisata-wisata komersial kota Tepian adalah
tidak ada kotak saran untuk menyalurkan saran-saran para pengunjung maupun para
pedagang. Sebenarnya saya juga ingin menyalurkan saran-saran ini, namun saya
tidak tahu harus kemanakan saran-saran ini. Seandainya terdapat kotak saran di
beberapa titik wisata komersial kota Tepian, mungkin tulisan saya ini tidak
hanya menjadi tulisan belaka yang mengendap di laptop saya, namun menjadi bahan
masukan yang bermanfaat untuk pemerintah dan pihak terkait .
Semoga
tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Dan, saya harap solusi
yang telah saya yang muat dalam saran saya dapat dikembang dan menjadi
inspirasi bagi para pembaca yang mau membangun kota Samarinda agar kedepannya
memiliki wisata-wisata yang dapat diandalakan serta dapat memberikan senyum
kegembiraan bagi setiap penduduk yang mengunjungi wisata-wisata tersebut. Mohon
maaf jika terdapat kesalahan dalam tulisan saya ini. Manusia tidak diciptakan
oleh-Nya sebagai seseorang yang sempurna, namun seseorang yang baik adalah
seseorang yang memberikan manfaat untuk orang lain. Terima kasih telah membaca
tulisan ini.
Karya : Iis
Tarsiyah.
Kelas : XII
MIPA 1.
Sumber : 1. Katalog BPS (Badan Pusat
Statistik) Statistik Daerah Kota
Samarinda Tahun 2015.
2. Koran Kalitim Post Edisi 29 Desember
2012 Halaman 7.
3. Wisata Indonesia. Jurnal Ilmu Pariwisata,
30-34.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar