Social Icons

Pages

Minggu, 29 Desember 2013

"MINIMARKET WAVE" MELANDA KOTAKU



            Sama halnya dengan “Korea Wave” yang digandrungi oleh para remaja. Kini para masyarakat Kota Tepian pun sedang mengandrungi gerai-gerai minimarket. Terbukti, kita selalu menemukan gerai-gerai minimarket yang bertebaran di setiap jalan. Menjamurnya gerai-gerai minimarket di Samarinda setahun belakangan ini, sepertinya mencerminkan budaya masyarakat dan pola hidup yang sudah berubah. Para masyarakat lebih menyukai berbelanja di gerai minimarket daripada di toko atau di pasar tradisional. 
            Sebelumnya, “izinkan” saya untuk memperkenalkan kepada kalian apa itu minimarket. Minimarket menurut pandangan sederhana saya, Mini market terdiri dari dua kata yaitu mini = kecil dan market = pasar. Sehingga diterjemahkan secara bebas artinya pasar kecil. Namun, minimarket memang “cabe rawit”. Kenyataan yang sudah ada, minimarket merupakan suatu tempat yang didalamnya terdapat bermacam variasi barang. Variasi barang yang disediakan meliputi kebutuhan pokok, makanan ringan hingga perlengkapan mandi. Konsumen akan sangat mudah mencari keperluan mereka, karena minimarket hampir menyediakan semua kebutuhan para konsumen. Disamping itu, suasana belanja di dalam mini mraket jauh lebih nyaman di bandingkan warung-warung kecil atau pasar tradisional. Hal inilah yang menyebabkan minimarket menjadi pilihan tepat untuk para konsumen yang ingin mengutamakan kenyamanan berbelanja.

Namun, kalau diperhatikan lebih cermat lagi. Pembangunan gerai-gerai minimarket yang ada di kota Samarinda sepertinya merugikan para pedagang toko dan pasar tradisional. Selain jumlah outlet minimarket yang terlalu menjamur, jarak dan penempatan outlet-outlet minimarket sangat dekat dengan toko dan pasar tradisional seakan-akan menjegat para pengunjung untuk datang ke toko maupun pasar tradisional. Contohnya saja dikota Samarinda, di Jalan Pangeran Antasari terdapat 2 minimarket yang berbeda outlet dengan jarak sangat dekat. Selain itu, bangunan 2 minimarket yang berbeda outlet itu berdekatan dengan toko-toko kecil. Kasus yang sama juga terjadi di Jalan Untung Suropati dan Jalan Kemangi. Selain itu, di Jalan Uli tepatnya Pasar Kedondong terdapat sebuah minimarket yang jaraknya sangat dekat dengan Pasar Kedondong dan toko-toko kecil disekitar Pasar Kedondong. 
Uniknya lagi, lahan dengan ukuran sekecil apapun dapat di sulap menjadi sebuah minimarket. Lihat saja di Jalan Gunung Kinibalu tepatnya di depan Rumah Sakit Dirgahayu. Dengan ukuran yang mini saja, sudah dapat membangun sebuah minimarket dengan areal parkir yang mini pula. Padahal seperti yang kita ketahui, bahwa Jalan Kinibalu sering terjadi kemacetan. Hal itu akan hanya menambah titik kemacetan dan menyulitkan para pengunjung minimarket tersebut.
Yah, pandangan saya peralih pada Pemerintah Kota dan para Wakil Rakyat. Dimana kepedulian mereka kepada pedagang kecil di toko dan pasar tradisional serta kenyamanan rakyat? Mengeluarkan izin rekomendasi pembangunan minimarket dengan mudah tanpa meninjau dimana lokasi pembangunan minimarket tersebut? Karena lokasi penempatan minimarket yang memperhatikan disekitarnya, membuat para pedagang kecil di toko dan pasar tradisional sepi pengunjung dan gelisah akan pendapatan mereka yang berkurang. Serta menambah daftar titik-titik kemacetan di kota Samarinda.
            Banyak kerugian yang harus ditanggung oleh para pedagang kecil, karena pengunjung toko dan pasar tradisional menurun dan akhirnya produk-produk mereka tidak laku terjual. Disisi lain, perkembangan minimarket juga akan mematikan perkembangan berbagai makanan tradisional biasanya dijual di pasar tradisional. Dengan matinya pasar tradisional maka makanan tradisional pun lenyap. Seperti yang kita ketahui, minimarket sangat jarang menjual makanan-makanan tradisional melainkan snack-snack modern saja. Kondisi ini selain mematikan perkembangan pasar tradisional, menghambat usaha rakyat kecil serta menghilangkan distribusi atau produksi makanan tradisional. 
Meskipun dengan kondisi yang tidak menguntungkan, tetap ada cara untuk mengatasinya. Pertama, cara mengelolanya. Masih ditemukan adanya toko dan pasar tradisional yang mampu bertahan di tengah minimarket wave karena dikelola dengan baik dan memperhatikan seluruh aspek seperti kebersihan, kenyamanan, dan keamanan dalam berbelanja. 
Lalu gaya hidup modern yang mudah diterapkan, tampaknya tidak mempengaruhi sebagian masyarakat Samarinda yang masih memiliki budaya untuk tetap berkunjung dan berbelanja ke toko dan pasar tradisional. Karena, opini masyarakat adalah jika di toko atau di pasar tradisional masih terjadi proses tawar menawar harga, sedangkan di minimarket harga sudah pasti ditandai dengan label harga. Dalam proses tawar menawar terjalin kedekatan personal dan emosional antara penjual dan pembeli yang tidak mungkin didapatkan ketika berbelanja di minimarket.

Menjual barang yang tidak dijual di minimarket juga salah satu solusi untuk mendatangkan para pengunjung dan menyediakan fasilitas yang sekiranya membuat para pengunjung harus berpikir ulang untuk dapat ke minimarket. Contohnya, menyediakan halte untuk menunggu angkutan umum dan di samping halte tersebut terdapat kulkas minuman untuk memancing pelanggan. Lalu, menyediakan areal parkir yang luas untuk kenyamanan lalu lintas dan para pengunjung.
Kemudian, saya juga berharap agar para Pemerintah Kota dan para Wakil Rakyat untuk meninjau lebih dulu lokasi pembangunan minimarket sebelum mengeluarkan izin rekomendasi pembangunan minimarket. Usahakan, jarak antara minimarket dengan toko atau pasar tradisional tidak terlalu dekat. Sehingga, para pedagang kecil toko dan pasar tradisional tidak menderita dan tidak jadi seorang penggangguran.
Jangan lagi angka pengangguran meningkat hanya karena ulah Pemerintah kota dan para Wakil Rakyat yang ingin mencari peluang untuk kepentingan sendiri. Pemerintah kota dan para Wakil Rakyat seharusnya mengayomi rakyatnya untuk sejahtera bukan tambah melarat!

IT IS MY VOICE IN MY HEART AND MY IDEA IN MY BRAIN “IIS TARSIYAH”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates