Social Icons

Pages

Minggu, 29 Desember 2013

KOTAKU SESURAM WARNAMU



Banyak rutinitas yang dilakukan oleh para penduduk di Samarinda. Belum lagi para penduduk Samarinda selalu dilanda kemacetan akibat membengkaknya jumlah penduduk warga Samarinda. Membuat para penduduk Samarinda membutuhkan tempat bersantai untuk melepaskan kepenakan mereka dari rutinitas sehari-hari bersama keluarga mereka.

Hanya saja, pendapat saya, kota Samarinda hanya didekorasi oleh pusat perbelanjaan atau department store yang kokoh berdiri dengan megah di kota Tepian. Sayang seribu sayang. Jumlah pusat perbelanjaan di kota Samarinda malah berbanding terbalik dengan jumlah tempat wisata alam untuk rekreasi para keluarga. Yah, mungkin ini akibat alam Kota Tepian tercinta ini telah ditelan oleh perusahaan pertambangan yang tidak bijak.

Dalam perjalanan





Memang, dengan adanya kegiatan penambangan dan adanya perusahaan pertambangan disuatu daerah akan berdampak secara sistematik akan meningkatnya pendapatan devisa daerah maupun Negara dan menciptakan serta meluaskan lapangan kerja. 

Namun, seperti inikah kota Samarinda akan lebih baik?


Dan, hal tersebut membuat masyarakat tidak dapat hidup dengan tenang, karena takut terancam adanya bahaya jika pemukiman mereka dikepung oleh bisnis pertambangan. Keuntungan dari usaha penggalian batubara di kota Samarinda memang tidak sebanding dengan dampak kerusakan lingkungan mulai dari pencemaran air, tanah, dan udara. 

Menurut saya, belum maksimalnya aturan mengenai apa yang diperoleh dari hasil mengeruk sumber daya alam ini membuat menumpuknya problematika yang di hadapi kota Samarinda. Rakyat kota Tepian akan menghadapi bencana lingkungan yang super dahsyat akibat penggerusan bumi oleh perusahaan tambang batubara, baik yang memiliki izin maupun tidak. Hal ini sudah menjadi fakta yang tak dapat kita pungkiri bahwa tambang batubara itu lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Kalaupun ada hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. 

Pikiran saya terlintas kalimat kedepan sektor pertambangan batubara di kota Samarinda akan terus mengalami penurunan. Dan, saya lebih setuju jika harga batu bara terus-menerus anjlok dengan begitu kegiatan eksplotasi tambang batubara di kota Tepian ini  akan berkurang bila perlu dihapuskan saja. Coba kalian bayangkan, disaat pengusaha mereguk keuntungan yang besar dengan cara membongkar kandungan batubara di dalam tanah, tapi masyarakat sekitar malah terkena bencana banjir, longsor dan debu setiap harinya. 

   
Namun, untuk saat ini saya menyarankan upaya penanggulangan dari dampak yang akan terjadi dari kegiatan pertambangan. Jika kita lihat kondisi pada saat ini, lahan bekas pertambangan cenderung ditinggalkan tanpa ada penanganan yang lebih lanjut oleh perusahaan tambung atau dengan kata lain, lahan bekas pertambangan cenderung ditelantarkan setelah menikmati hasilnya. Kemudian, perlu dilakukannya reboisasi . Selain itu, dibutuhkan suatu kajian terhadap lahan bekas tambang yang terlantar untuk mengetahui arahan pemanfaatan lahan yang sesuai untuk dilakukan berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh lahan bekas tambang tersebut dan permintaan yang ada agar permasalahan yang terjadi akibat ditelantarkannya lahan bekas tambang dapat diminimalisir. Yah, salah satu contohnya adalah berbagau wisata alam buatan.

Dengan upaya yang saya sarankan, saya harapakan dapat mengurangi dampak kegiatan pertambangan bagi warga dan lingkungan kota Samarinda. Dan, saya juga mengharapkan pemerintah kota Samarinda dapat bekerjasama untuk dapat menangani salah satu problem kota Samarinda ini dengan mengeluarkan aturan dan melakukan pengawasan akan kegiatan pertambangan. Upaya ini diharapkan dapat menekan kerugian yang akan dialami masyarakat sehingga perwujudan pemenuhan kebutuhan hidupnya dapat berlangsung dengan baik.

REFERENSI:
http://pandudharma.blogspot.com/2013/10/si-hitam-yang-berbahaya-dan.html
www.apalagiya.blogspot.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

 
Blogger Templates